Hargai Kewenangan Orang Lain

Lama gak ngeblog. Saya pengen banget nulis hal ini karena beberapa hari yang lalu, saat saya ngobrol dengan beberapa rekan tentang rumitnya prosedur suatu birokrasi di pemerintahan dan seringkali kerumitan ini terjadi di level bawah yang biasanya dilakukan oleh staf dengan level atau pangkat rendah. Obrolan itu mengingatkan saya pada ucapan bapak beberapa tahun yang lalu saat saya mengurus SIM. Ucapan bapak itu sampai sekarang masih terus teringat oleh saya dan ucapan ini akan terus saya ingat sampai kapanpun.

Saya lupa kapan tepatnya kejadian ini dialami, tapi ceritanya begini.

Saat saya masih kerja di Aceh, saya masih menggunakan SIM dan KTP yang beralamat di Malang. Suatu saat, SIM saya akan habis masanya dan saya harus balik ke Malang untuk memperpanjang SIM. Maka, berangkatlah saya ke Malang dengan asumsi saya bisa mengurus SIM ini dalam waktu singkat. Saya melakukan pendaftaran perpanjangan/pengurusan ulang SIM ini di hari Jumat. Semua proses pengurusan SIM saya lalui tanpa masalah dan tibalah waktunya untuk ujian praktek menyetir kendaraan roda empat. Pada saat itu, ada banyak peserta yang mengantri menunggu panggilan ujian praktek dan saya termasuk salah satunya. Saat ujian SIM ini saya ditemani oleh bapak saya, karena setelah sekian lama tidak ke Malang, saya tidak tahu lokasi ujian SIM, sehingga saya minta tolong untuk ditemani bapak menuju ke lokasi ujian praktek.

Selama ujian SIM, beberapa peserta berhasil lolos, namun beberapa peserta tidak lolos dan penguji selalu menyarankan kepada peserta untuk datang kembali dan mengulang ujian praktek dua minggu mendatang. Lalu, tibalah saya dipanggil untuk ujian praktek, saya segera masuk ke kendaraan dan melakukan semua praktek seperti yang diminta oleh penguji. Semua lancar dan tidak ada masalah, namun ternyata setelah selesai praktek, saya dinyatakan tidak lulus dan diminta untuk mengulang 2 minggu lagi. Saya bertanya ke penguji “saya salah apa pak?”, lalu beliau menjawab “Anda tidak menggunakan sabuk pengaman sejak awal menyetir”. Saya baru tersadar jika selama praktek tidak mengenakan sabuk pengaman, tapi saya sempat berdebat dan meminta ulang untuk diuji, karena menurut saya alasan tersebut terlalu mengada-ada. Namun beliau tidak mengijinkan saya untuk mengulang pada saat itu dengan alasan banyak peserta lain yang mengantri. Akhirnya saya menepi, namun saya tetap merasa tidak puas dengan alasan yang diberikan penguji.


Pada saat menepi, timbullah pikiran saya untuk “melobi” penguji dengan membayar agar saya bisa diloloskan, karena menurut saya alasannya terlalu dibuat-buat dan saya tidak mungkin kembali ke Malang lagi dua minggu kemudian hanya untuk mengurus SIM, karena saya harus kembali ke Jakarta untuk bekerja, selain itu tiket kereta sudah saya beli untuk saya kembali ke Jakarta di hari Minggu. Lalu saya dekatilah si penguji dan saya berkata ke beliau “bapak, saya kan cuma salah karena sabuk pengaman, tolong dibantulah pak biar saya bisa dapat SIM hari ini, kalau ada biayanya, nanti saya akan bayar”.

Di luar dugaan saya, beliau merespon permintaan saya dengan berteriak ke para peserta lain yang tengah mengantri. Kira-kira ucapannya seperti ini “Mas, kalau saya bilang balik lagi 2 minggu lagi, ya balik aja 2 minggu lagi, jangan coba-coba bayar saya supaya mas bisa lulus dari ujian ini. Memangnya mas pikir semua bisa dibayar dengan uang? Saya tidak seperti itu mas!”, sambil tangannya mengarah ke saya. Saya terdiam dan malu sekali saat itu, karena semua mata tertuju ke saya pada saat penguji mengucapkan itu.

Bapak yang tengah menunggu dari kejauhan lalu memanggil saya dengan tangannya. Saya menghampiri bapak, lalu bapak berucap, “Kamu kalau mau minta tolong, jangan seperti itu, ucapkan alasan kamu secara baik-baik dan minta tolong ke dia apa bisa dibantu agar ujiannya bisa dipercepat. Kamu tunggu dulu sampai ujiannya selesai dan datangi petugasnya”. Saya mengikuti ucapan bapak dan menunggu sampai ujian SIM selesai. Selama penguji memanggil satu-satu peserta, saya dengan sabar menunggu disamping penguji sampai dengan selesai.

Sekitar pukul 11 siang, ujian selesai, lalu saya hampiri si penguji lalu saya bilang seperti ini “Bapak, mohon ijin, kalau bisa saya diberi kesempatan sekali lagi untuk mencoba hari ini atau besok, karena kalau 2 minggu lagi saya jelas tidak bisa, karena saya hari minggu sore sudah harus kembali ke Jakarta dan saya jelas tidak mungkin kembali lagi ke Malang 2 minggu lagi hanya untuk mengurus SIM. Saya mohon ke bapak untuk membantu saya, kalau diijinkan, saya mencoba sekali lagi hari ini atau besok”. Dengan acuh tak acuh si penguji cuma bilang “Besok pagi jam 8, silakan datang lagi ke sini, saya kasih kesempatan untuk mencoba lagi”. Saya bilang “terima kasih bapak, saya akan datang besok pagi jam 8”, lalu saya pulang ke rumah.

Besoknya, sebelum jam 8 pagi saya sudah tiba di lokasi ujian praktek bersama bapak saya. Sebelum dibuka proses antrian, saya mencoba jalur ujicoba dengan kendaraan saya pribadi, saya pasang sabuk pengaman dan mencoba semua jalur praktek tanpa kendala. Di saat saya mencoba, saya melihat si penguji datang dan memperhatikan saya saat sedang ujicoba. Penguji tidak berucap apapun namun hanya memperhatikan saat saya tengah mencoba.

Saat jam 8, penguji mulai bersiap-siap dan memanggil satu-persatu peserta ujian. Saya menghampiri beliau dan bilang “maaf bapak, saya sudah siap untuk ujian lagi”. Dengan acuh tak acuh dia cuma bilang seperti ini “Kamu tunggu di sini, nanti saya akan panggil kalau sudah waktunya”. Saya menjawab, “Siap bapak”. Dari kejauhan, lagi-lagi bapak saya memanggil lalu memberitahu saya, “kamu tunggu aja sampai nanti yang nguji manggil kamu”. Saya cuma jawab “Iya”. Ternyata, proses ujian peserta berlangsung dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 11 siang. Jadi selama tiga jam saya menunggu dan berharap dipanggil, tapi sampai selesai saya tidak dipanggil-panggil. Namun, setelah peserta terakhir, saya dipanggil oleh si penguji. Saya bergegas menuju ke kendaraan untuk ujicoba lagi sambil mengingat-ngingat apa saja yang harus saya lakukan agar tidak mengulangi kesalahan serupa seperti hari sebelumnya.

Belum sampai ke kendaraan, si penguji memanggil saya “mas sini, mana dokumennya?” saya serahkanlah dokumen saya dan mau kembali ke kendaran, tapi ternyata beliau bilang “Sudah mas, gak perlu nyoba lagi, ini langsung saya tanda tangan dan segera diurus aja SIM-nya karena sebentar lagi akan tutup”. Saya kaget sekaligus senang dan hanya bisa mengucapkan “Terima kasih pak!”. Akhirnya saya membawa berkas yang telah ditanda tangan penguji untuk mengurus SIM. Singkat cerita akhirnya saya dapatlah SIM sebelum jam 12 siang.

Setelah itu, saya pulang dengan bapak saya dan di dalam kendaraan bapak berucap:

“Dudi, kamu tau gak? Kadang, ada orang yang dalam bekerja hanya punya kewenangan tertentu dan belum tentu kewenangan yang dimiliki orang itu bisa dibayar pakai uang. Contohnya, provost di kandang monyet (pos jaga tentara), kamu tau gak? Kewenangan tertinggi provost saat bertugas hanyalah memberi ijin dan menghentikan orang yang mau masuk ke wilayahnya. Nah, orang-orang seperti itu tidak selamanya bisa dibayar pakai uang, karena saat kamu menyamakan kewenangan mereka dengan uang, maka pada saat itulah harga dirinya direndahkan. Begitu juga penguji tadi, kewenangan tertinggi dia adalah berhak untuk memutuskan siapa peserta yang bisa lulus dan siapa saja yang wajib mengulang. Saat kamu menyamakan kewenangan itu dengan uang, belum tentu dia mau. Terbukti kemarin justru si penguji malah tersinggung bahkan sampai berteriak ke peserta lain kan? Harusnya kamu hargai itu dan sampaikan baik-baik alasan kamu dan minta bantuan ke dia dengan baik, harusnya pasti nanti akan dibantu. Terbukti, kan tadi kamu juga tidak perlu ujian lagi, bahkan langsung ditandatangani oleh dia, karena dia udah liat saat tadi kamu latihan. Lain waktu, kamu musti paham hal seperti itu ya”.

Bapak berbicara seperti itu terkesan sambil lalu, tapi ucapan itu masih terus teringat oleh saya saat menulis ini. Ucapan bapak seperti sebuah pisau yang langsung menusuk ke jantung saya. Saya terdiam dan cuma menjawab “Iya”.

Harusnya saat itu saya bilang “Terima kasih bapak, wejangan yang sangat berharga buat saya untuk bisa menghargai orang lain”.

Selain ke Bapak, saya juga perlu berterima kasih ke pengujinya (saya lupa nama pengujinya), karena telah memberikan saya pelajaran berharga.

Rest in Peace Bapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This is not spam